SENDI PRAWIRA

Tampilkan postingan dengan label 2. DIARY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2. DIARY. Tampilkan semua postingan

Kawan, konon sekarang dilarang keras untuk berfikir negatif tentang nasib Cianjur. Maka apabila tanah kelahiran kita ini nantinya menjadi daerah yang jauh dari harapan bahkan sulit kita kenali lagi, Sikap berfikir negatif yang mengarah pada perlawanan kesewenang wenangan dan sikap sentimentil, akan membuat kita jadi Salim Kancil versi Cianjur. Kawan tidak percaya? Silahkan coba!
Kawan-kawanku yang baik hatinya, mungkin kalian melewatkan tayangan tvone tentang perpindahan kepemilikan lahan pribumi di Cianjur menjadi hak milik pengusaha sekaligus penguasa. Bisa dibayangkan, sawah seluas 68 hektar di Pasir Nangka - Sukaluyu milik warga satu kampung, menjadi milik satu orang saja. Luar biasa bukan?
Kawan, tidakkah takut bila satu hari nanti Cianjur akan segemerlap Ibu Kota? bila rentetan sawah Karang Tengah berubah menjadi pabrik megah, bila lahan luas di Jalan Baru menjadi pabrik sepatu, bila tanah Panembong menjadi pabrik kaos oblong dan bila sawah di Bojongpicung sudah dapat dihitung.
Kawan, mari kita saksikan, kelak sawah Haji Apen akan dikenang hanya lewat cerita saja. Luasnya kulah gurame milik Kang Kurdi hanya akan menjadi pengantar lelap sang buah hati, atau kebon pangan milik Kiai Sanusi hanya akan menjadi riwayat santri sebelum mengaji. Tentu hal ini akan terjadi bila kondisi Cianjur terus seperti ini.
Bukan pesimis Kawan, tapi alangkah baiknya dari sekarang hijrahlah ke kampung saudara seintim terdekat biar kelak tidak terlalu merasa kehilangan dan larut dalam kesedihan. Karena kawan sekalian harus move on juga kan? toh lambat laun kalian akan terusir juga kan? daripada bernasib seperti Haji Daud, pemilik sawah terluas di kampungnya yang sekarang jadi supir pribadi penguasa atas sawahnya yang luas itu.
Kasihan Haji Daud Kawan, sawahnya sekarang sudah sulit dikenali lagi, pabrik penggilingan padi yang dulunya mencolok besar di tengah sawah kini berada di tepian gang sempit berderet dengan pemukiman warga yang kena gusur. Hal-hal unik yang ada di kampungnya telah tertimbun pasir keserakahan akibat pembangunan mega proyek itu.
Pemuda di kampung Haji Daud tahu diri Kawan, mereka angkat kaki. Adapun yang gak bisa move on dan tetap tinggal, paling-paling jadi kuli, bekerja bertaruh nyawa mengangkat batu bata diatas ketinggian berbahaya. Dari penderitaan itu kemanjuran paling banter memihak pada Haji Daud yang menjadi supir pribadi punguasa itu. Walau harus siap mengantar siang atau malam, sore atau pagi. 
Anak dan istri Haji Daud sudah angkat kaki dari kampung dan memulih tinggal bersama mertuanya, hidup alakadarnya. Sangat berbeda saat kampungnya masih terjaga. Bagi Haji Daud dan keluarganya alih fungsi lahan tidak seperti apa yang di beritakan orang-orang tentang kemajuan sistem kerja dan moderenisasi satu wilayah. Tapi bagi mereka, tak lebih dari perampasan hak-hak kemanusiaan, dan pembunuhan warga pribumi.
Kawan, pengusaha itu mengeruk sawah mereka, menimbunya dengan beton-beton yang di angkut oleh truk tronton, lalu lalang di tengah warga yang hanya bisa menyaksikan dengan tumpuan dagu di tangan. Tak bisa melawan tak bisa banyak melarang. karena konon mereka tertib membayar pajak tapi tak faham UU No.41 Tahun 2009. 
Bilapun ada seorang pemuda berani tampil nyentrik, bersuara lantang dengan mengerahkan masa, menuntut penyediaan lahan pengganti terhadap lahan pertanian pangan berkelanjutan yang dialihfungsikan. Maka jangan heran bila keesokan harinya tersebar kabar seorang pemuda tewas mengambang di sungai Rajamandala. Dalihnya terpeleset dan terbawa arus. Walau di sekujur tubuhnya terdapat bekas hantaman, tidak akan dilakukan visum tidak akan pula diperpanjang. Kejadian ini akan dianggap murni kecelakaan. Padahal lebih dari itu kecelakaan sebenarnya adalah pelanggaran hak kemanusiaan.
Pun bila mana ada seorang wartawan berani memperpanjang masalah ini dengan mengangkat bukti dan beberapa analisa terkait adanya dugaan pembunuhan. Maka bisa dipastikan keesokan harinya sekonyong-konyong pasir proyek akan menimbun wartawan itu bersama motor dan kameranhya. Lalu setelah kejadian itu Cianjur akan bungkam, tak terdengar hawar-hawar pembunuhan, tak ada kabar penindasan kesewenang-wenangan, semuanya diam tak mau tahu. Dua kejadian itu efektif menjadi lakban untuk menutup mulut pribumi.
Kawan, saat ini begitu doyannya maut mengintai orang yang banyak mulut. Sentimentil adalah keharaman mutlak bagi pribumi kecuali bagi mereka yang ingin bernasib seperti sawah-sawah mereka sendiri, bedanya nanti yang di keruk bukan lagi tanahnya, melainkan isi tubuh mereka sendiri. Ditimbun lalu dibiarkan bertahun-tahun.
Kawan, akan tiba masa dimana tvone sudah tak memberitakan semua kekacauan ini atau media lainnya yang juga tak ingin sentimentil. Kalaupun sudah demikian, maka Kawan semua tak jauh beda nasibnya seperti pemuda dan wartawan tadi. Bedanya Kawan ditimbun oleh berita-berita rekayasa hasil dari hegemoni penguasa dan pengusaha.
Kawan, sebagai penulis tentulah bukan tanpa pertimbangan untuk menuliskan semua ini, tapi mau diapakan lagi kalau rasa sentimentil ini selalu datang tanpa diundang tiap mengingat kembali bagaimana sawah nenek moyang saya diratakan. Tak berdaya saya untuk melawannya, ibarat kurcaci habislah diinjak mati sedang para kurcaca nyanyi tralala. Demikian potongan bait dari lagu Iwan Fals berjudul Bunga Trotoar.
Kawan, terakhir bilamana besok terdengar kabar telah ditemukan mayat seorang tanpa KTP di pinggir Jalan Baru Rawa Bango, tentu Kawan pasti sudah tahu siapa mayat itu.

Jakarta, Rabu 25 November 2015

selengkapnya …

Sedari dulu aku selalu meyakini kalau menjadi yang paling unggul itu tak penting, ada dua alasan. pertama karena aku memang tipikal orang yang tidak kompetitif kedua karena menjadi paling unggul itu bagiku lebih sulit dari menemukan pokemon legendaris.
Terlepas dari itu aku ingat wejangan Ayah ketika hari pertama Aku masuk sekolah di SMPN 1 Bojongpicung (Sekolah paforit di kampungku). "Gak usah rengking 1, sekolahlah yang rajin biar lulus bersama teman-teman."
Setelah itu Ayahku bercerita tentang perjuangan meraih gelar sarjananya di UNPAD, walau tak satupun prestasi dia raih tapi baginya masuk UNPAD adalah prestasi. Kenal orang-orang hebat UNPAD adalah sebuah rengking pencapaian bagi Ayah.
Awalnya cerita Ayah ini, Aku artikan sebagai nasihat biasa seorang Ayah pada Anaknya. Tapi seiring pemahaman hidupku bertambah. Nasihat dan cerita itu ternyata falsafah hidup Ayah yang beliau ijazahkan padaku. Ayah berkata "kalau berada di tempat hebat, posisikanlah diri ibarat lentera di tengah terangnya lampu pijar benderang, tak nampak terangmu wajar karena sekililingmu terang. Tapi yakinilah kalau kau akan berada di tempat yang gelap. Itulah saatnya lentera berperan menerangi kegelapan."
Setelah semua itu difahami. Aku langsung berjanji dibawah bulan, setidaknya sampai generasi ketujuh keturunanku, akan Aku pegang prinsip ini.
Belakangan Aku mendengar orang no.1 di kantorku. Ibu Indra Prastomiyono (Direktur utama MNC Media) berkata "Tak perlu jadi no. 1, tapi jadilah yang ada di tempat no.1"
Aku tercengang prinsip ini senada dengan falsafah hidup Camat Kec. Pasir Kuda - Cianjur Selatan. (Alm. Ayahku).
selengkapnya …

Seperti sistem-sistem baru dikantorku. Dibuat dengan tujuan untuk mempermudah kinerja karyawannya. Yaitu:
Sistem penyimpanan project (MXF Server) yg konon dibuat oleh orang belanda untuk mempermudah editor membuka project di semua ruang avid.
Sistem pengiriman send to playout (Media Grid) server omneon. Dibuat untuk lebih meningkatkan performa proses pengiriman. karena konon kabel dari sitem ini sudah memakai FO (Fiber Optic) jadi lebih cepat.
Awalnya sitem-sistem baru ini akan menimbulkan masalah baru, terkesan tidak memudahkan, bahkan dianggap menurunkan kinerja karyawan.
Tapi seiring berjalannya waktu. sistem ini akan difahami jadi kemudahan, masalah demi masalah mulai disadari sebagai kekeliruan pribadi karena masih terbiasa dengan sistem lama yg tidak efektip dan update. Akhirnya sistem ini akan menjadi cara baru yg mudah cepat dan meningkatkan performa kinerja.
So begitupun hidupmu. Untuk memulai sesuatu yg baru, kadang tak akan mudah bagimu. Tapi setelah prosesnya kau jalani, maka kau akan sadar betapa kelirunya hidupmu sebelum ini.
Do not be afraid to bother because it is new.

selengkapnya …

Usai sudah pesta pora ibadah puasa. Masjid-masjid kembali menggulung karpet shaf barisan belakangnya, Qur'an-Qur'an ditata ulang, rekal-rekal dirapihkan, dan dua buah micro phone kembali di amankan sehingga ada satu saja yg berfungsi hanya untuk adzan. Begitupun huru hara lebaran, jalanan mulai lenggang setelah seminggu tak henti dijejali sedan-sedan Ibu Kota. Tarip bus kembali normal, orang-orang kembali pada rutinitasnya masing masing. Yang ngantor kembali ngantor, yang kuli kembali kerja, buruh kembali beraktifitas, pemilik warteg mulai membuka talang-talang kayu warungnya. Sementara stasion tv swasta menghitung laba hasil jualannya di bulan puasa.
Pun begitu dengan departemen post production globaltv, tempatku bekerja. Terlihat komputer mulai kembali menyala, VTR kembali memutar DVCAM guna proses capture. Dan kami para editor akan kembali lupa waktu kalau sudah bertatap muka dengan Avid Media Composer dan setumpuk materi yang harus on air dua atau tiga hari kemudian.
Seperti biasa, selepas maghrib adalah waktu makan malamku bersama rekan-rekan. Tempat paforit kami yaitu Mie Aceh Nyak Lin. Rumah makan khas aceh.  Walau namanya mie aceh tapi menu paforit kami justru bukan mie, melainkan nasi goreng khas acehnya yang membuat kami rela merogoh kocek 20.000 ribu setiap malamnya. Sambil menunggu pesannan,kami berbincang ria berbasa basi.
"Do'a tarawihnya di bawa gak?" Tanya Hendra padaku yang langsung disambut gelak tawa rekan rekan semua. "Kangen tarawih gua" ujarnya sedikit mengeluh. Perkataan hendra diaminkan rekan-rekan termasuk aku sendiri, semua merasakan kerinduan itu, selagi menunggu "Si Bohay" mengantar pesanan. akhirnya kami me review kembali moment-moment seru sepanjang ramadhan kemarin melalui foto-foto pada group WhatsApp kami. Memperlihatkannya satu persatu dan menceritakan kembali keseruan ketika moment-moment itu. Asik, seru, meriah, ceria, dan indah sangat indah. Bagiku tepatnya dari dulu, aku selalu meyakini tak ada moment yang paling indah dan berkasan selain moment monent ketika bulan Ramadhan. Bagaimana Sahur, buka puasa, takjil, tarawih, tadarus, imsyak, zakat, dan lain-lain mempunyai kesan spesial tersendiri.
Akhirnya pesanan datang,  6 porsi nasi goreng dan 2 piring mie goreng khas aceh siap di santap. Seperti biasa Om Feri tak mau melewatkan moment ini. "Hari pertama kerja" ujarnya sambil mengangkat Iphonenya dan mengarahkan kamera ke arah dirinya sendiri dan kami semua. "satu, dua, tig..a" moment ini berhasil diabadikan. Dengan satu sentuhan pasti terpampanglah foto itu di group post production globaltv dengan keterangan HBH. "halal bi halal" demikian komentar pertama Hendra di group itu.

Setelah bismillah semua menyantap hidangan dengan lahap. Sementara aku masih memilih-milih foto mana yang lebih bagus untuk aku pasang pada postinganku berukut ini:
1. First of all


2.  Review ke puasa, menanti adzan maghrib di waktu dzuhur itu rasanya...


3. Walau kantor menyediakan Takjil, tapi kadang makanannya kurang memuaskan so kami membentuk panitia takjil Al-Globaliyah. tugasnya sangat mulia, menyiapkan macam-macam takjil serupa kurma, gorengan, lontong dan lain-lain hasil dari iuran rutin kami setiap hari.



4. Ah, gayanya panitia ini, kadang untuk urusan beli gorengan saja, mereka harus naik Alphard Om Feri. elitnya...


5. Hendra, Adhan, dan Dede merekalah panitia Takjil Al-Globaliyah yang tangguh, mereka rela tengkep tiga ala cabe-cabean kalau mobil om Feri tak kunjung datang. kalian pantas masuk syurga!



6. Kelakuan...


7. Sebagaimana aku ceritakan, Om Ferry tak pernah melewatkan moment-moment kami. Selalu saja dia mengabadikannya. Tibalah saatnya buka puasa, et.. tunggu, pastikan adzannya bukan dari iklan sirup..


8. Sebagai bentuk pengamalan surah Al-Ma'un, tak lupa kami berbagi keceriaan Ramadhan bersama anak-anak yatim. Acara ini di sponsori oleh Dede's House dan "para donatur" yang meminta namanya di tulis sebagai hamba Allah. sambil buka bersama, acara ini berlangsung khidmat, meriah, dan tentunya berkasan.



Ah.... tak terasa waktu menipu, satu bulan khatam sudah bulan Ramadhan. Ku lihat di sudut pojok warung makan Mie Aceh Nyak Lin terdapat sebuah jadwal imsyakiyah yang masih tertempel. Ku pandangi perlahan seketika hati ini berdo'a. "Semoga di pertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan."
selengkapnya …

Selamat Idul Adha

Bersama surat ini Adik sertakan sembah ta’dzim pada Papap di Rumah. Bersama surat ini juga Adik selipkan do’a, Robigfirli waliwalidaya warhamhuma kama robayani shagira.


Pap, ma’af sudah hampir dua bulan Adik memutuskan untuk tidak pulang kerumah. Alasannya sederhana, karena sepulang dari perayaan wisuda, Adik melihat tulisan dibelakang truk pembawa pasir berbunyi “pulang malu gak pulang rindu”. Betul pap, gelar sarjana mengharuskan Adik untuk mandiri dan melakukan hal-hal yang produktif, progresif, serta menghasilkan. Oleh karena itu, beberapa minggu kebelakang Adik disibukan oleh kegiatan yang bermanfaat seperti: mendaki gunung, ngopi bareng teman, facebook-kan, dan bersenang-senang. Gimana keren kan Pap? Masalah biaya Adik telah menjual android hasil dari beasiswa yang tempo hari adik pernah sombongkan pada si Kaka. Jadi Papap jangan khawatir!


Pap, sekarang tanggal lima oktober bertepatan dengan lebaran haji. Kumandang takbir terdengar biasa saja, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang penuh makna, mungkin karena kualitas kesalehan anakmu ini telah terbagi dengan tanggung jawab mencari beras, sehingga kebiasaan bergadang dimasjid telah berganti dengan ngopi sambil lagi-lagi facebook-kan. Pagi hari selepas shalat ied, orang-orang disini telah siap dengan golok dan pisau mereka untuk mumbunuh sapi-sapi yang sedari malam diikat tepat dibelakang asrama. Adik sangat kagum pada orang-orang itu, mereka memakai kaos tim hijau bertuliskan HIQMU (Himpunan Panitia Qurban Masjid Al-Mubarak). Begitu elegan ketika pisau dan golok mereka memantulkan kilauan cahaya pagi.


Apalagi ketika mereka mulai beraksi, dengan satu sabetan pasti, leher sapi berhasil mereka gorok sampai khatam. Mereka mengingatkan Adik pada tokoh samurai Roronoa Zoro pada serial kartun One Piece. Bedanya terletak pada nasib, kalau Zoro berkarir sebagai arttis manga sedangkan panitia HIQMU hanya panitia. menurut Adik mereka tak ubahnya sekelompok orang pejuang syari’at rasul Ibrahim. Mereka rela berdarah-darah, demi agama Allah. Taruhannya sangat berat, mereka harus rela diserang wabah kutil yang sesekali siap menyerang kulit. Dari itu Adik sangat tertarik dan memutuskan untuk masuk keanggotaan HIQMU, luar biasa kan Pap?, Papap sekarang pasti sedang bergumam “saya tidak gagal mendidik anak”.


HIQMU telah berdiri selama 14 tahun sebagai tim suksesi Qurban Masjid Al-Mubarak masyarakat Cibiru Hilir. Untuk masuk keanggotaan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi diantaranya beragama islam, baligh, berakal, serta mampu bekerja dibawah tekanan. Dari persyaratan yang berat itu Adik kurang yakin untuk mengajukan diri sebagai anggota, tapi dengan niat menegakan syari’at, Adik akhirnya diterima sebagai anggota. Sungguh suatu kebanggaan ketika Adik diperkenankan memakai kaos hijau bertuliskan HIQMU (Himpunan Panitia Qurban Masjid Al-Mubarak). Sebagai anggota baru tahun ini Adik diberi tugas tidak terlalu berat, hanya sebagai tukang potong tali rapia untuk mengikat setiap 10 kantung kresek yang telah terisi daging. Menurut mereka anggota baru belum diperkenankan untuk berurusan dengan pisau dan daging.


Profesionalitas adalah kunci dari kesuksesan HIQMU yang bisa survive selama 14 tahun dengan panitia Qurban lainya. Banyak aspek yang perlu ketelatenan khusus sebagai punggawa HIQMU. Diantaranya sebagai seorang jagal HIQMU harus dapat menyembelih hewan Qurban dalam satu nafas. Alasan itu dipahami sebagai penyebab bau tidaknya kelak daging kambing dan sapi setelah dikuliti. Selain tatanan praktis seperti itu, aspek yang tidak bisa lepas dari kesuksesan HIQMU terletak pada manajemen. Bagaimana mereka bisa mengatur proses dari awal pendaftaran Qurban, pelaksanaan, pembagian, dan evaluasi. Semuanya diatur secara apik.


Sambil memotong tali rapia ukuran satu jengkal, Adik sempat ngobrol dengan salah seorang anggota HIQMU, Asep namanya. Dia sudah 3 tahun tercatat pada keanggotaan. “Alhamdulillah naek pangkat” demikian cetusnya ditengah kesibukan memotong daging iga. Mang Asep ini setiap tahun biasanya ditempatkan di bagian mengurus jeroan dan kadut. Setelah setiap tahun harus menahan bau dari kotoran sapi, akhirnya tahun ini diperkenankan santai dibawah terpal biru tempat dimana daging-daging murni dipotong.


Selain itu mang Asep bercerita banyak tentang Qurban. Ada kejadian unik pada tahun lalu dimana seorang juragan mendaftar pada HIQMU untuk mengorbankan sapinya yang besar. Menurut sang juragan sapinya cukup besar untuk berkorban sebanyak 8 orang, sedangkan syari’atnya 1 sapi hanya cukup untuk 7 orang. Namun sang juragan tak faham fiqh, dia bersikeras menyelipkan satu nama anaknya yang masih kecil. “tanggung, Pak ustadz, jangankan untuk 8 orang, untuk 10 orangpun sepertinya sapi besar ini masih kuat menjadi kendaraan di akherat” dia bilang. Panitia kebingungan untuk memberikan pemahaman logis pada sang juragan. Namun bukan HIQMU namanya kalau tidak becus menangani hal-hal seperti ini. Pak Haji Lili sebagai ketua HIQMU turun tangan.


Pak haji Lili kemudian memberikan pemahaman yang cerdas pada sang juragan. “Bapak juragan yang saya hormati, memang betul sapi ini akan kuat di tunggangi lebih dari 8 orang sekalipun nanti di akherat, tapi berhubung sapi ini tinggi besar sementara anak bapa masih kecil, maka anak bapak akan kesulitan untuk dapat naik dan menunggangi sapi ini. Oleh karena itu bapak harus menyediakan pijakan untuk menaikinya. Berhubung diakhirat gak ada tangga, yang ada hanya hewan Qurban jadi bapak saya sarankan untuk berkorban satu ekor kambing lagi sebagai pijakan anak bapak.” Atas usulan itu akhirnya sang Juragan pun membeli satu ekor kambing dan memberikan kepada panitia untuk disembelih. Tanpa mengetahui syari’at bahwa 1 kambing cukup untuk satu orang berkorban, dalam hal ini untuk anak sang juragan.


Mendengar cerita itu, Adik enak melepas tawa. Ternyata Ridwan Kamil benar, kalau bahagia itu sederhana. Tidak usah jadi PNS, Karyawan PT Bonafit, atau pengusaha Wall Street. Alhamdulillah Pap, sekarang Adik mendapat status sosial sebagai anggota HIQMU walau digaji hanya dengan hasil komoditas sendiri yaitu daging sapi buat nyate, tapi Adik puas dibanding harus mensejahterakan pihak swasta, kaum kapitalis berdarah dingin yang menjanjikan harapan pada setiap sarjana seperti Adik ini. Namun berdampak alienasi pada manusia. Jauh dari kesan apologi karena tak kunjung mendapat kerja, tapi ini prinsip Pap, ini sebuah integritas seorang sarjana. Asli bukan alasan!


Oh iya, tentang kepercayaan pihak jurusan untuk berbicara teori monoteisme, teori audivus kompleks, atau teori perjuangan kelas Karl Marx di depan mahasiswa semester satu, Adik rasa Adik belum mempunyai kapasitas untuk berbicara itu. Rak buku adik masih kurang penuh untuk mengejawantahkan semua teori ilmiah itu. Tapi Papap tidak usah khawatir Adik akan terus berusaha hingga mendapatkan wewenang ilmiahnya, do’akan saja supaya Adik bisa membeli buku lebih banyak sehingga rak buku Adik penuh.


Sebetulnya masih banyak yang ingin Adik ceritakan, tapi tidak keren kalau seorang sarjana berlama-lama menghabiskan waktu hanya untuk menulis surat pada ayahnya. Adik hanya minta do’a dari Papap supaya Adik istiqomah menjadi umat Rasulullah yang ta’at serta dijauhkan dari rayuan iblis yang dirazam. Satu lagi, jangan terlalu banyak nyate, tidak baik untuk kolesterol. Adik tutup dengan takbir Allahuakbar Walilahilhamdu.
selengkapnya …


Sekarang pukul setengah satu lebih lima di tempatmu. aku bisa mengetahuinya dari waktu adzan antara Bandung dan Cianjur yang berbeda hanya dua menit.
kulit wajahmu pasti sedang terlipat diantara kerutan bantal. rambutmu yang menumpuk karena kau tidur terlungkup dengan muka menghadap ke sisi kiri. tanganmu selalu tampak menggapai, apakah itu yang selalu kau cari dibawah bantal?
aku selalu ingin mencuri waktumu. menyita perhatianmu. Semata-mata supaya aku bisa terpilin masuk kedalam lipatan seprai tempat tubuhmu sekarang berbaring.
Sudah hampir 3 tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 4.354.560.000
Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta padamu dikelas itu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silahkan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada disitu. Ditiap inti detik, dan didalamnya lagi, dan lagi, dan lagi.
Penunjuk waktuku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku sensasi keabadian sekaligus moralitas. Rolex tak mampu berikan itu.
Mengertilah, tulisan ini bukan bertujuan untuk merayu. Kejujuran sudah seperti riasan wajah yang menor, tak terbayang menambahinya lagi dengan rayuan. Angka miliyaran tadi adalah fakta matematis. Empiris. Siapa bilang cinta tidak bisa logis. Cinta mampu merambah dimensi angka dan rasa sekaligus.
Sekarang pukul dua tiga puluh di tempatmu. Tak terasa sudah satu jam aku disini. Menyumbangkan lagi 216.000 milisekon kedalam rekening waktuku. Terimakasih. Aku semakin kaya saja. Andaikan bisa ku tambahkan satuan rupiah, atau lebih baik lagi, dolar, dibelakangnya. Namun engkau tak ternilai. Engkau adalah pangkal, ujung, dan segalanya yang ditengah-tengah. Sensasi Ilahi. Tidak dolar, tidak juga yen, mampu menyajikannya.
selengkapnya …